5 Daftar Kasus Paling Populer Sepanjang Tahun 2018

PORTALNEWS.CO.ID | NASIONAL – Kali ini kita akan bahas soal Jakarta sebagai Ibu Kota Metropolitan Negara Indonesia sepanjang tahun 2018, yang dibilang cukup trending menghebohkan Indonesia maupun Luar Negeri.

Dari ke 5 daftar kasus paling populer sepanjang tahun 2018, terus menuai perhatian publik.

Dampak yang mereka hembuskan pun dituai media, baik cetak, elektronik maupun media cyber.

Berikut daftar namanya.

  1. Richard Muljadi

Nama Richard Muljadi mencuat pada Agustus 2018. Cucu konglomerat Kartini Muljadi, pendiri Tempo Scan Group, itu ditangkap polisi di sebuah restoran di Pacific Place, SCBD, Jakarta Selatan, pada 22 Agustus 2018, karena kepemilikan narkoba.

Penangkapan itu berawal dari kecurigaan mantan Kepala Polres Depok Komisaris Besar Herry Heriawan, yang saat itu tengah bersantai di restoran yang sama dengan Richard.

Herry memperhatikan Richard karena tingkah pemuda itu dinilai kurang sopan.

Kaki Richard nyaris mengenai Herry. Bukannya meminta maaf, Richard malah tidak mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Saat itu Herry mencurigai tingkah Richard karena pengaruh alkohol atau narkoba.

Saat Richard masuk ke toilet Pacific Place sekitar pukul 01.00 WIB, Herry mengikutinya. Herry memutuskan untuk melakukan penggerebekan terhadap Richard di dalam toilet.

Benar, Richard baru saja mengonsumsi kokain di dalam bilik toilet. Dari tangan Richard, Herry menyita barang bukti berupa satu unit iPhone X hitam dan satu lembar uang kertas 5 dolar Australia dengan serbuk putih diduga kokain sisa pakai.

Hingga kini, Richard masih menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Adapun agenda sidang adalah mendengarkan keterangan dari para saksi.

  1. Hercules Rosario Marshal

Penyidik Kepolisian Resor Jakarta Barat menangkap Hercules Rosario pada 21 November 2018. Dia terseret kasus penguasaan lahan milik PT Nila Alam di Daan Mogot, Kalideres, Jakarta Barat.

Polisi meduga, preman yang sudah malang melintang di belantara Jakarta selama puluhan tahun, itu memimpin anak buahnya menguasai lahan PT Nila Alam pada 8 Agustus 2018.

Kelompok Hercules yang berjumlah 12 orang dituding merusak beberapa fasilitas, memasang plang, klaim penguasaan lahan, hingga mengancam karyawan PT Nila Alam.

Polres Jakarta Barat juga menetapkan seorang saksi kasus ini sebagai tersangka pada 22 November 2018. Dia adalah Handi Musirwan selaku pemberi kuasa tanah PT Nila Alam kepada Hercules.

Handi merupakan anak dari ahli waris tanah yang mengaku sebagai pemilik sah.

Hercules mendapat surat kuasa untuk menduduki tanah PT Nila Alam sesuai dengan surat putusan tanah yang dipegang Handi. Sayangnya, menurut polisi, surat putusan tanah itu sudah terjual, dan Hercules tertipu.

  1. Muhammad Bahar Bin Smith

Kepolisian Daerah Jawa Barat menangkap Muhammad Bahar bin Smith pada Selasa malam 18 Desember 2018.

Pemuda 33 tahun yang menyebut dirinya Habib Bahar itu mendekam di balik jeruji besi setelah polisi menetapkannya sebagai satu dari enam tersangka penganiayaan atas dua orang di pondok pesantren di Bogor.

Video penganiayaan yang dilakukan oleh Bahar itu tersebar luas di media sosial.

Dalam sebuah video, pemuda berambut gondrong itu terlihat tanpa ampun memukuli seorang remaja di sebuah lapangan.

Usai video itu viral, Kepolisian Bogor menerima laporan berisi persekusi oleh Muhammad Bahar bin Smith di lingkungan pondok pesantren yang diasuhnya, Tajul Alawiyin.

Laporan bernomor LP/B/1125/XI/I/2018/JBR/Res. Bgr tertanggal 05 Desember 2018 yang isinya menyebutkan Bahar bin Smith melakukan persekusi terhadap dua orang, seorang di antaranya masih berusia anak pada Sabtu 1 Desember 2018.

Sebelum kasus penganiayaan itu mencuat, nama Bahar bin Smith sudah santer menjadi pembicaraan masyarakat karena ceramahnya yang kontroversial mengenai Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Namanya semakin dikenal saat berceramah di Reuni 212 di Monas, Jakarta Pusat, pada 2 Desember 2018.

  1. Ahmad Dhani

Musisi sekaligus politikus Ahmad Dhani pada tahun 2018 memiliki keterlibatan pada banyak kasus. Ia dilaporkan berbagai pihak ke polisi dengan berbagai macam tuduhan, antara lain karena dugaan makar, dugaan penipuan, ujaran kebencian, hingga pencemaran nama baik.

Di antara semua kasus itu, yang paling menyita perhatian masyarakat adalah ujaran kebenciannya terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau Ahok.

Dari insiden tersebut, Jack Lapian pendiri Basuki Tjahja Purnama (BTP) Network langsung melaporkan Ahmad Dhani pada hari Kamis, 9 Maret 2017.

Laporan ini terkait dengan cuitan Dhani di akun Twitter-nya, @AHMADDHANIPRAST, yang dianggap menyebarkan kebencian menjelang pemilihan kepala daerah DKI Jakarta putaran kedua.

Pada Senin, 26 November 2018 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jaksa Penuntut Umum mendakwa Dhani dengan Pasal 45A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat 2. UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

JPU menuntut pentolan grup musik Dewa 19 dengan hukuman penjara semlama 2 tahun.

  1. Ratna Sarumpaet

Nama aktivis Ratna Sarumpaet sempat menghebohkan seluruh Indonesia pada bulan Oktober 2018. Kehebohan itu berawal dari unggahan Ratna di media sosial pada 2 Oktober 2018, yang menampakan wajah bengkaknya.

Dalam unggahannya, Ratna menyebut wajah bengkaknya itu disebabkan penganiayaan oleh seseorang saat ia sedang berada di Bandung, Jawa Barat.

Beberapa politikus dan artis yang mendengar kabar itu mengecam tindakan yang menimpa ibunda Atika Hasiolan tersebut. Politikus dari partai Gerindra, seperti Rachel Maryam, Fadli Zon, hingga Prabowo Subianto ikut mengecam dan memberikan dukungan untuk Ratna.

Namun, belakangan Ratna mengaku bahwa dirinya berbohong soal dipukuli oleh seseorang.

Ia mengatakan bengkak di wajahnya karena operasi plastik yang dijalaninya di Menteng, Jakarta pada akhir Semptember 2018.

Tak berhenti sampai di situ, Ratna kembali membuat heboh masyarakat saat Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkapnya di Bandara Soekarnot Hatta pada Kamis malam, 4 Oktober 2018 sekitar pukul 20.00 WIB.

Polisi menangkap Ratna yang saat itu akan bertolak ke Cile untuk menghadiri acara Konferensi The 11th Women Playwrights International Conference 2018.

Menjelang pengujung kaleidoskop 2018, kepolisian menjerat Ratna dengan pasal 14 dan 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Selain itu, Ratna juga bakal dikenai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pasal 28 juncto pasal 45 dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara. (Int)