Dalam Industri Kreatif, Fashion Memiliki Kontribusi Besar Bagi Perekonomian Indonesia

  • Whatsapp
Dalam industri kreatif
Dalam industri kreatif

Dalam industri kreatif, fashion memiliki kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (2018), pada 2016 fashion menyumbang 54,54% untuk ekspor. Sebagai bagian dari sektor nonmigas, dalam rentang tahun 2015–2016, fashion mengalami pertumbuhan ekspor sebesar 3,23%. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sektor nonmigas yang hanya sebesar 0,22%.

 

Saatnya konsumen mendukung penerapan konsep sustainable fashion dan industri menanamkan konsep tersebut dalam tujuan bisnisnya diungkap oleh Mohammad Widyar Rahman.

 

Berdasarkan data, nilai ekspor fashion pada 2016 menyumbang 18,01% terhadap PDB Indonesia, meskipun terjadi sedikit penurunan dibandingkan pada 2015 saat subsektor fashion menyumbang sebesar 18,15% terhadap PDB.

 

Menurut Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), volume produksi hingga 2015 mencapai 6,3 juta ton atau senilai US$18,9 miliar. Dari jumlah tersebut, sebayak 5.96 juta ton digunakan untuk konsumsi domestik.

 

Aspek Lingkungan

Tren positif perkembangan fashion, baik dalam skala lokal maupun global, tidak lagi mengikuti musim. Saat ini ada yang disebut sebagai fast fashion yang menjadikan perkembangan mode begitu cepat. Siklus mode yang hanya berlangsung beberapa minggu saja berfokus kepada kecepatan dan biaya produksi rendah agar bisa menghadirkan koleksi terbarunya.

 

Di balik itu, siklus hidup produk fashion (life cycle) itu sendiri perlu menjadi perhatian. Apabila menelusuri prosesnya, dalam industri tekstil, bahan baku serat yang digunakan berasal dari kapas. Dengan begitu, dalam proses penanaman saja diperlukan pupuk dan pestisida dalam jumlah besar. Selain itu, dibutuhkan juga bahan kimia dalam setiap tahapan produksinya, mulai dari produksi serat, hingga proses pewarnaan, perawatan, dan finishing.

 

Menurut Ellen MacArthur Foundation (2017), produksi 1 kilogram pakaian katun menggunakan hingga 3 kilogram bahan kimia. Sementara itu, hingga 200.000 ton pewarna senilai US$1 miliar menjadi limbah setiap tahun karena ketakefisienan proses pewarnaan dan finishing.

 

Produksi tekstil juga terkait dengan GRK karena produksi 1 kilogram tekstil menghasilkan setara 20 kilogram gas karbon dioksida (CO2). Dalam perspektif ini, pada 2015 produksi poliester untuk tekstil saja bertanggung jawab atas lebih dari 700 juta ton karbon dioksida (CO2).

 

Selain itu, untuk menghasilkan 1 kilogram serat kapas dibutuhkan 4.300 liter air, meskipun hal ini bergantung iklim. Pencelupan dan finishing dapat menggunakan sekitar 125 liter air per kilogram serat kapas.

 

Belum lagi, pada proses produksi, pewarna yang dominan digunakan berbahan kimia azo/azo dyes. Di alam, senyawa ini akan membentuk senyawa amina aromatik jika mengalami biodegradasi secara anaerobik, antara lain senyawa aminobenzen atau anilina.

 

Suhendra, et. al. (2013) menemukan bahwa keberadaan anilina dalam konsentrasi tinggi pada sampel industri tekstil di Sungai Citarum mengindikasikan adanya penggunaan pewarna jenis azo/azo dyes dalam industri tekstil. Kemudian, peningkatan tren fast fashion juga berdampak kepada limbah pakaian yang dihasilkan sebagai akibat dari pendeknya siklus pakaian, apalagi jika ditunjang karakter untuk mengikuti tren mode.

Dalam-industri-kreatif
Dalam-industri-kreatif

Saat ini, bahan pakaian yang digunakan tidak hanya berasal dari serat alam. Penggunaan serat sintetis justru berisiko lebih tinggi merusak lingkungan. Serat sintetis ini berasal dari plastik. Serat sintetis berbasis plastik yang umum digunakan antara lain poliester, nilon, dan akrilik.

 

Penggunaan serat sintetis berbasis plastik juga erat kaitannya dengan isu plastik yang sampai saat ini masih menjadi pembicaraan, mengingat besarnya volume limbah plastik ke laut. Serat sintetis ini dapat menghasilkan serat mikro yang masuk ke perairan melalui proses pencucian pakaian yang berbahan poliester atau akrilik.

 

Menurut Ellen MacArthur Foundation, produksi poliester menggunakan sejumlah besar sumber daya, energi, dan pertanian kapas yang membutuhkan pupuk dan pestisida dalam volume tinggi (kecuali jika ditanami secara organik), serta air. Berdasarkan aliran material pakaian secara global pada 2015, lebih dari 97% bahan baku serat yang di antaranya mengandung 63% plastik yang menghasilkan 53 juta ton serat untuk pakaian, namun hilang saat produksi sebesar 12%.

 

Setelah pakaian tersebut digunakan oleh konsumen, hanya 12% yang didaur ulang. Sebanyak 2% hilang saat pengumpulan untuk daur ulang, sedangkan sisanya yang mencapai 73% masuk ke landfill. Uniknya, masih ada setengah juta ton serat mikro yang masuk ke perairan.

 

Sustainable Fashion

Konsep berkelanjutan telah menjadi suatu keharusan dalam industri fashion. Konsep ini mencakup proses produksi dan distribusinya. Proses produksi industri fashion tidak boleh membahayakan lingkungan. Industri ini juga harus menyediakan kondisi kerja yang baik serta menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan dan dapat di daur ulang sehingga dapat memperpanjang usia produk. Diperlukan juga penerapan ecolabel.

 

Seiring dengan perkembangan fast fashion saat ini, pengembangan sustainable fashion diperlukan agar dapat menumbuhkan tanggung jawab sosial dan memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan. Pentingnya penerapan sustainable fashion tentunya dapat meminimalkan pencemaran lingkungan sehingga para produsen dalam proses produksinya perlu mempertimbangkan aspek lingkungan dan dampak sosial.

 

Di sisi lain, terkait isu pekerja industri tekstil, hal yang perlu dipertimbangkan adalah keselamatan, jam kerja, dan upah pekerja. Sebagai contoh, kenaikan upah di suatu wilayah sering kali menyebabkan produsen mengalihkan usahanya ke wilayah lain dengan alasan standar upah yang lebih rendah.

 

Sejak 2017, Global Fashion Agenda menyerukan industri mode untuk mengambil tindakan pada Komitmen “Circular Fashion System 2020” sebagai cara konkret untuk mengubahnya menjadi tindakan dan untuk mempercepat transisi industri ke “Circular Fashion System”.

 

Tujuan sistem ini adalah menjadikan produk lebih bernilai sehingga tidak harus berakhir menjadi limbah. Agar dapat menjadi produk yang dapat didaur ulang, tentunya harus dimulai dengan bahan baku yang memang dapat didaur ulang dalam desain produknya.

 

Pengembangan inovasi teknologi diperlukan sebagai upaya untuk menghasilkan produk serat yang berkualitas dengan mempertimbangkan manajemen air dan energi dalam proses produksinya dan penggunaan bahan pewarna yang tidak membahayakan lingkungan.

 

Konsep sistem ini memerlukan dukungan semua pihak, terutama industri dan konsumen. Konsumen pun turut berperan dalam hal ini untuk peduli terhadap pakaian yang digunakannya, cara pembuatannya, serta apa pun yang terjadi setelah mendonasikan atau pun membuangnya.

 

Akhirnya, proses menuju sustainable fashion itu memang membutuhkan waktu karena produk fashion pun dapat dihasilkan melalui proses yang panjang. Meski begitu, setidaknya arah menuju sustainable fashion sudah terlihat. (int)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *