Debt Collector Tidak Perlu Panik, Tips Menghadapi Nasabah

  • Whatsapp
Debt-Collector-Tidak-Perlu-Panik-Tips-Menghadapi-Nasabah

Tips menghadapi debt collector, tidak perlu panik. Salah satu sektor padat karya yang banyak turut serta menggerakkan ekonomi riil adalah sektor usaha jasa pembiayaan. Gaya hidup masyarakat kita yang hobi dengan sesuatu yang wah, walaupun dengan cara berhutang membuat produk konsumtif seperti kendaraan maupun elektronik laris manis jika ditawarkan dengan skema kredit.

Sejak di era 1990-an sampai sekarang, makin berkembanglah perusahaan pembiayaan baik dari sisi jumlah maupun portofolio kreditnya. Pesat dan berkembangnya industri ini sekaligus disertai juga dengan masalah lain yang terkait risiko gagal bayar dan mekanisme penagihan.

Read More

Akibat terjadi salah paham dalam penyelesaian tunggakan yang lebih akrab dikenal dengan nama debt collektor. Peran dan fungsi Debt Colletor jika terjadi gagal bayar oleh nasabah? Ulasan di bawah ini akan memberikan gambaran detil tentang masalah tersebut dalammemberikan solusi.

BACA JUGA : 6 Jenis Minuman Yang Tak Boleh Dikonsumsi Saat Belum Makan, Nomor 6 Paling Parah

Peran Debt Collector dan Aturan Main yang Mengaturnya

Debt collector baru bisa diminta oleh bank saat posisi nasabah (misalnya kartu kredit) posisi macet, bukan telat jatuh tempo. Berkunjung ke alamat penagihan, manakala pemilik kartu kredit yang menunggak tidak ada kejelasan informasi atau kabar, kapan akan membayar tagihan apalagi jika sampai susah ditemui.

Apalagi karakteristik nasabah yang menunggak biasanya juga susah ditemui, entah karena takut atau menghindar akibat belum bisa membayar tunggakan. Seharusnya Debt Collector dihadapi wajib untuk mendapatkan solusi yang sama-sama bisa dijalankan kedua belah pihak.

Aturan Kerja Debt Collector itu diatur dan mengacu pada Surat Edaran Nomor 14/17/DASP

Pemerintah, dalam hal ini Bank Indonesia. Mekanisme penagihan yang dilakukan oleh Debt Colletor juga diatur dalam surat edaran nomor 14/17/DASP yang harus dipahami dengan baik oleh para pemilik kartu kredit dan calon pemilik kartu kredit.

  1. Debt collector baru bisa bekerja jika posisi tagihan Kartu Kredit telah macet sesuai kriteria kolektibilitas yang berlaku di Bank Indonesia, sehingga proses penagihan debt collector tidak bisa dilakukan jika baru sebatas telat bayar di luar jadwal jatuh tempo.
  1. Biasanya perusahaan jasa ketiga harus bisa bekerja sesuai dengan standar kualitas pelaksanaan penagihan Kartu Kredit yang berlaku di bank atau lembaga pembiayaan sehingga proses pelaksanaan penagihan Kartu Kredit yang dilakukan pihak Debt collector sama baiknya dengan yang dilakukan sendiri oleh Penerbit Kartu Kredit.
  1. Debt colletor profesional haruslah terlatih etika, baik dari sisi teknis penagihan maupun dalam menjalankan etika penagihan sesuai ketentuan yang berlaku. Sehingga tidak merugikan nasabah.
  1. Dalam menjalankan tugasnya debt collector harus dilengkapi dengan identitas dan surat tugas yang jelas dan lengkap dari perusahaan. Maka sudah menjadi tangjawab perusahaan penerbit kartu kredit/lembaga pembiayaan maupun perusahaan ketiga yang bekerja sama dengan bank/lembaga keuangan untuk mengatur administrasi para debt collector dengan baik.

Debt Collector maupun nasabah wajib paham etika dan aturan main penagihan yang sudah diatur, tentang etika dalam menjalankan tugasnya :

  1. Debt collector harus dilengkapi dengan identitas dan surat tugas yang jelas dan lengkap dari Penerbit Kartu Kredit.
  1. Perusahaan leasing (Debt collector) tidak boleh melakukan tindakan kekerasan, mengancam, melakukan tekanan secara fisik maupun verbal atau hal merugikan lainnya kepada nasabah. Jika hal tersebut dilakukan, nasabah berhak untuk melaporkan kepada pihak berwajib.
  1. Penagihan tunggakan nasabah oleh Debt collector hanya boleh dilakukan kepada nasabah secara langsung, bukan kepada keluarga atau yang lainnya.
  1. Debt collector dilarang menagih dengan menggunakan media komunikasi secara berlebihan yang mengganggu nasabah maupun keluarga dan lingkungannya.
  1. Perusahaan leasing (Debt collector) dalam menagih nasabah harus dilakukan sesuai dengan alamat penagihan bukan di tempat lain yang berpotensi menimbulkan gangguan ketertiban umum. Selain itu, penagihan juga harus pada jam normalnya orang aktif beraktivitas. Yaitu, 08:00 hingga pukul 20:00, di luar dari itu harus atas persetujuan pemegang kartu kredit.

Apabila etika penagihan tersebut diatas sudah dijalankan dengan baik oleh debt collector, maka nasabah juga wajib menghargai tugas mereka dengan baik pula.

Tidak Perlu Panik

Mulai dari menanyakan identitas mereka, siapa yang menugaskan dan wajib juga meminta nomor telepon yang memberi tugas para penagih utang ini untuk proses cek jika dibutuhkan.

Eksekusi Jaminan di jalanan bukanlah solusi, dan justru bisa diancam pidana. Tindakan seperti ini berisiko mengubah status perdata bisa menjadi ranah pidana selain berisiko munculnya tindakan kekerasan fisik atau yang lainnya.

Nasabah yang tidak terima kendaraannya di eksekusi, bisa melaporkan tindakan tersebut kepada polisi dengan tuduhan perampasan, dengan Pasal 368, Pasal 365 KUHP Ayat 2, 3, dan 4 juncto maupun Pasal 335. Untuk perlu diketahui bahwa, kasus perdata eksekusi baru bisa dilakukan setelah ada putusan dari pengadilan.

BACA JUGA : 3 Poin Daftar Makanan, Menjaga Kesehatan Vagina

Pihak nasabah juga tidak boleh nakal dalam hal ini karena secara prinsip awal mula tindakan tersebut bisa jadi berawal dari susahnya mencari nasabah, tidak ada titik temu atau komunikasi yang tidak berjalan dengan baik.

Pihak bank/perusahaan pembiayaan bisa saja melaporkan tindakan nasabah yang nakal dengan tuduhan penggelapan barang jaminan sehingga bisa masuk ke ranah pidana. Tidak ada yang diuntungkan dari tindakan sengketa seperti itu. Maka jalan terbaik bagi nasabah adalah tetap diskusi dan mintakan solusi atas kesulitan yang Anda hadapi.

Sedangkan bagi debt collector sendiri, juga bukan waktunya lagi menagih dengan cara-cara yang seram atau tindakan kekerasan lainnya. Saling menghargai dan selesaikan dengan baik tanpa perlu merugikan kedua belah pihak pada dasarnya perusahaan leasing (Debt Collector) adalah salah satu profesi seperti yang lainnya, sehingga tidak perlu ditakuti oleh nasabah. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku bisa jadi solusi bagi kedua belah pihak jika terjadi kredit yang menunggak.

Penulis: Candra Nugraha
Editor: Zainuddin Bundu

Related posts

Portal-News-729X90 Portal TV - Channel Streaming Indonesia