Mahasiswa Luwu Menantang Maut, Demi Belajar Online

  • Whatsapp
Menantang Maut

Luwu, Portalnews.co.id – Ketika perayaan hari pendidikan nasional beberapa pekan lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim kaget dengan adanya sejumlah kendala yang dilaporkan mengenai kondisi pelajar di Indonesia saat menghadapi belajar online atau populernya kuliah daring.

Mulai dari masalah listrik, jalan dan hingga jaringan sinyal yang sudah pasti menghambat interaksi belajar jarak jauh secara online. Dan Imbasnya bagi mereka yang secara langsung dihimbau dari rumah.

Read More

Karena adanya dampak Covid 19 yang secara serentak melanda negeri tercinta kita Republik Indonesia, sejumlah mahasiswa terpaksa harus mengikuti kuliah daring setelah perguruan tingginya memutuskan untuk meliburkan aktivitas perkuliahan reguler di kampus.

BACA JUGA : Mencatut Nama JOIN Dan Tindak Kekerasan, William Resmi Dilaporkan

Awalnya penggunaan teknologi video telekonferensi dari berbagai aplikasi membuat aktivitas perkuliahan daring menjadi terkesan mudah bagi sebagian orang yang memiliki akses internet.

Namun faktanya, hal ini dirasakan berbeda oleh beberapa mahasiswa di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan yang harus pergi ke gunung atau dataran tinggi demi mendapatkan sinyal untuk melancarkan tugas kuliah online mereka tanpa memperdulikan keselamatannya.

Dengan adanya kejadian tersebut, sejumlah mahasiswa di Kabupaten Luwu harus menantang maut demi mencari sebuah sinyal untuk mendukung kuliah online mereka, yang beralamat di Desa Rante Alang, Dusun Salu Lompo, Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan. Selasa (12/5/2020).

Belajar Online

Adapun Mahasiswa yang melakukan Belajar Online, yakni dari Perwakilan mahasiswa dari Universitas Cokroaminoto Palopo, IAIN Palopo, IAIN Pare Pare,STIMIK Akba Makassar, dan Mahasiswa Pelayaran dari Polimarim AMI Makassar, dan Universitas Mega Resky Makassar.

Alasannya sederhana, mengingat sulitnya sinyal provider yang kurang bagus di wilayahnya, sehingga bisa menghambat kuliah online yang dilakukan oleh para mahasiswa tersebut.

“Saya cuma mau bagikan info mengenai keluhan mahasiswa yang kesulitan akses jaringan untuk melakukan perkuliahan online khususnya mahasiswa di daerah pelosok dimana belum ada jaringan. Jadi untuk mengikuti perkuliahan harus melakukan pendakian setiap hari ke gunung sejauh kurang lebih 7 km ditempuh dalam waktu 1-2 jam dalam keadaaan puasa” Kutip Sartika, Mahasiswa dari Cokrominoto Palopo.

Lanjutnya Sartika”Kami sebagai mahasiswa yang mengalami ini sangat merasakan kesulitan setiap harinya, ditambah lagi tugas-tugas yang menumpuk, apa lagi untuk mengerjakan tugas di atas gunung tidak ada alat bantu seperti meja ataupun pengalas untuk menulis. Kondisi lingkungan di tempat kami sangat tidak mendukung untuk mengikuti perkuliahan. Kami sangat berharap diberikan solusi atas apa kami rasakan”. Kunci Sartika

BACA JUGA : Kasus Dugaan Pungli Bupati CUP I Bertarif VIP, Satu Terlapor Lolos

Hal serupa juga dilontarkan oleh Alvin Mahasiswa dari Mega Resky Makassar, Jurusan Olahraga. Selain harus berjuang demi belajar daring di ujung bukit, pihaknya juga menanggung biaya pengisian data pribadi.

“Beli sendiri paket datannya, tidak ditanggung. Dan kita biasanya belajarnya sampai malam, karena kebanyakan dosen kasih batas waktunya pengumpulannya sampai jam 12 malam, atau paling lama satu hari”. Tambah Alvin

“Kadang kita belajar malam kalau ada tugas harus kejar detline, dan abis tarwih langsung kesini lagi sampai subuh”. Bebernya (ZB)

Related posts

Portal-News-729X90 Portal TV - Channel Streaming Indonesia