Pasar Sore Lamasi Menuai Pertanyaan Warga, Ada Apa.?

  • Whatsapp
Pasar Sore Lamasi

Luwu, PortalNews.co.id – Pemindahan pasar sore lamasi beberapa tahun sempat redup, dan kini mulai lagi diperbincangan dengan beredarnya beberapa surat yang ditembuskan kepada mereka selaku pedangang yang melakukan aktifitas di daerah tersebut. Dengan adanya kebijakan-kebijakan pejabat daerah yang tidak mengarah pada kemakmuran rakyatanya.

Pasalnya, Para pedagang pasar tumpah yang biasa kita dapati dimana-mana diberbagai daerah di Indonesia. Lokasi yang ditempati pedagang adalah tanah pribadi yang bersertifikat alias bukan tanah pemda. Pedagang disitu menyewa tanah tersebut untuk mereka tempati berjualan kebutuhan sehari-sehari.

Read More

BACA JUGA : Kasus Mantan Sekertaris Bawaslu Luwu di Temukan 300 Juta

Bahkan keberadaan pasar tumpah ini sangat dirasakan oleh masyarakat sekitar cukup menggerakkan ekonomi masyarakat yang sejahtera, yang beralamat di pasar sore jalan Pasae, Kelurahan Lamasi Kecamatan Lamasi, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan.

Tak hanya itu, sejumlah warga (Pedagang) yang tak ingin dimediakan namanya kepada media portal news menjelaskan “Pemerintah Daerah dalam hal ini Kadis Perdagangan dalam surat himbauannya meminta kepada Pedagang agar menghentikan kegiatan masyarakat ditempat itu, dan meminta agar beralih ke Pasar Sentral Lamasi. Yakni Pasar Pemda Luwu yang dibangun dengan Sistem Bangun Serah Guna dan sebagai pengembang dan sekaligus pengelola. Yakni, PT Bola Lestari Indah dengan jangka waktu kontrak 30 tahun”. Ungkap Warga Kamis Malam (27/2/2020) sekitar pukul 21:30 Wita melalui via selulernya.

Pedagang-Pasar-Sore-Lamasi

Dari isi surat tersebut, Para pedangang dilokasi tersebut menilai bahwa, Pemerintah dalam hal ini Kadis Perdagangan dan Camat setempat ada kesan memaksakan pedagang agar berjualan di Pasar Sentral Lamasi. Padahal sewa kios dan loas serta rukonya sangat mahal menurut pedagang.

“Bukan kami tak mau mengikuti arahan pemerintah Pak, cuman persoalannya harga yang dibebankan ke kami terlalu mahal. Misalnya, Ruko ukuran 4 m X 12 m Rp 475.000.000,-, Ruko 4 m X 10 Rp. 450.000.000,-, Kios ukuran 4 m X 6 m Rp 120.000.000,-, Kios ukuran 3 X 4 m Rp. 60.000.000,-, Kios ukuran 3 m X 3 m Rp 50.000.000,- dan Kios ukuran 2 m X 2 m sebesar Rp 25.000.000,-. Apalagi bangunan tersebut sudah sangat tua dan sebagiannya belum jadi. Bagaimana denganb kenyamana maupun keselamatan kami”. Cetusnya

BACA JUGA : Demisioner Ketua PKPT IPMIL RAYA UIM Terpilih Menjadi Ketua PB IPMIL RAYA

Tak hanya itu, Para pedagang mengumpamakan dengan adanya Pasar-pasar tumpah seperti ini banyak di Kabupaten Luwu, mengapa cuma pasar tumpah ini yang ditindaki demikian melalui Kadis Perdagangan dan Camat Lamasi, Kabupaten Luwu. Beber warga lagi

Tambah pedagang “Kalo mau tertibkan.. ya tertibkan semua orang yang berjualan yang tidak punya izin. Pemerintah harus hadir sebagai rahmat buat masyarakatnya. Sekarang sudah bukan saatnya paksa warga harus berjualan di pasar pemerintah, malah sekarang ini banyak tumbuh penjual keliling. Apa mereka juga harus dilarang karena tidak punya izin” (ZB)

Related posts

Portal-News-729X90 Portal TV - Channel Streaming Indonesia