Proyek Infrastruktur, Seperti Cerita Legenda Bandung Bondowoso Dan Sangkuriang

PORTALNEWS.CO.ID | JAKARTA – Proyek infrastruktur, seperti cerita legenda bandung bondowoso dan sangkuriang yang menjadi polemik di Era Presiden Jokowi Widodo, yang dimana proyek tersebut teleh mengelembungkan utang mencapai Rp 200 triliun pada tahun (2017) lalu, atau Rp 53,98 triliun, 83% untuk pencapaian Infrstruktur di Tanah Air.

Dengan menggelembungnya utang ini tidak hanya membahayakan BUMN, akan tetapi juga bagi Bank dan Negara sebagai penjaminnya.

Sebab, utang infrastruktur mempunyai tenor jangka panjang, jika proyeknya amburadul. Maka pengembalian pinjaman juga tidak terjamin. Bila menggunakan pendanaan Bank Asing, sejumlah aset ikut BUMN terancam jatuh ke tangan asing.

Kasus ini juga terjadi di sejumlah Negara, yang membangun infrastruktur dengan berutang ke Cina. Angola, Zimbabwe, Nigeria, Pakistan dan Sri Langka Negara-negara tersebut adalah contoh beberapa negara yang terbelit utang infrastruktur dari Bank Cina.

Contoh salah satu negara yang terbelit hutang, terpaksa harus menganti mata uangnya dengan Yuan, dan BI. Akibat terhimpit utang sebesar USD 40 Juta, Zimbabwe per 1 Januari 2016 terpaksa mengganti mata uangnya dengan Yuan. Ngeri banget!

Sementara itu, Srilanka juga terpaksa melepas pelabuhan laut dalamnya di Hambantota ke BUMN Cina karena tidak bisa membayar utang.

Dampak lain yang sangat serius dari monopoli proyek infrastruktur itu oleh BUMN adalah bangkrutnya ribuan kontraktor swasta.

Wakil Ketua Umum III Gapensi Bambang Rahmadi mengungkapkan, jumlah anggotanya mengalami penyusutan tajam. “Diera Jokowi, banyak kontraktor yang gulung tikar. Ini kan penugasan semua,” katanya.

Sebagai pengurus, wajib memperhatikan kesejahteraan Anggota Gapensi, yang semula berjumlah sebanyak 70-80 ribu orang, kini tinggal sekitar 35 ribu.

Kesedihan mereka kian bertambah karena penyaluran dana pemerintah ke desa-desa, tidak dikontrakkan.

Bisa dibayangkan berapa jumlah pengangguran yang tercipta akibat program infrastruktur Jokowi. Tambahnya

Cerita tentang infrastruktur Jokowi ini mengingatkan kita pada kisah legenda Bandung Bondowoso-Loro Jonggrang di Jawa Tengah, dan Sangkuriang-Dayang Sumbi di Provinsi Jawa Barat.

“Cerita Bandung Bondowoso diminta membangun seribu candi dalam satu malam sebagai syarat untuk meminang Loro Jonggrang. Sementara itu, Sangkuriang diminta membuat perahu dan danau dalam satu malam, untuk sebagai mahar. Agar menikahi Dayang Sumbi yang nota bene ibunya sendiri”. Imbuhnya

“Singkat cerita, misi kedua-duanya menjadi gagal, karena dinilai tidak memenuhi target, karena adanya indikasi dari Loro Jonggrang dan Dayang Sumbi. Akhirnya Bandung Bondowoso dan Sangkuriang gagal meminang dua wanita pujaan hatinya”.

Bagaimana dengan nasib Jokowi? Yang punya target untuk menyelesaikan proyek infrastrukturnya sebagai salah satu jualan utamanya agar terpilih kembali menjadi presiden. Waktunya lima tahun lagi.

Beda dengan cerita Bandung Bondowoso dan Sangkuriang yang berusaha menaklukkan seorang wanita, Jokowi harus menaklukkan hati 192 juta pemilih.

Kritik pedas dari Bank Dunia ini jelas menjadi pukulan yang sangat keras bagi Jokowi. Jualan utamanya ditelanjangi habis-habis oleh Bank Dunia.

Dengan persiapan pilpres yang hanya dibilang kurang  dari 1.00 hari, dampak elektoralnya bisa sangat serius. Ini sudah masuk tahap injury time. Kerusakan besar ini sulit untuk memperbaikinya. Ngeri-ngeri sedap! Tambahnya lagi

Sekedar diketahui, belum lama ini Direktur IMF Christine Lagarde, dan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim belum lama ini dijamu secara mewah di Bali. Pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia, menghabiskan dana pemerintah kurang lebih dari Rp 1 triliun rupiah. [Int]